Kenapa belajar ilmu komputer? Untuk muslim yang awam.

Saturday, 8 June 2019

Ilmu komputer merupakan ilmu yang paling dibutuhkan sekarang. Hampir semua aspek hidup manusia tersentuh olehnya. Pada abad ini, kita melihat lewat komputer, mendengar lewat komputer, dan berbicara juga lewat komputer. Dalam jangka waktu dekat, proses berpikir dan menganalisa informasi pun dibantu oleh sistem komputer. Dalam skala makro pun tidak jauh berbeda: Industri manufaktur, transportasi, pangan, konstruksi, energi, semua membutuhkan komputer. Bukan berlebihan kalau dikatakan bahwa ilmu komputer hari ini sama pentingnya dengan matematika di masa lalu. Seiring banyaknya bagian dari kehidupan kita yang di-otomasi oleh mesin, semakin bergantung kita terhadap mesin-mesin yang kita buat.

Bukan hanya masalah ketergantungan kita pada otomasi mesin saja, sebenarnya. Seiring kita semakin lihai merancang mesin dan sistem yang membantu kehidupan kita, semakin besar juga dampak yang bisa kita berikan kepada umat manusia dan alam sekitar kita. Lihat saja perkembangan teknologi informasi dalam waktu 20 puluh tahun terakhir: Internet telah merubah cara kita belajar, berpikir, dan bekerja. Ambillah contoh lembaga keuangan seperti bank: Pengaruh bank dan kekuatan kredit tidak pernah sebesar sekarang. Hanya dalam satu-dua sentuhan, uang bisa mengalir.

Tentunya, dampak mudahnya mengalirnya uang ini sangat tergantung dengan lembaga dan masyarakat yang memakainya. Jika digunakan dengan baik, maka ekonomi semakin berkembang. Sebaliknya, jika digunakan dengan buruk, maka ekonomi akan runtuh. Dunia telah menyaksikan krisis moneter global tahun 2008, ketika uang orang banyak, difasilitasi dengan teknologi, disalahgunakan dan dikorupsi. Banyak orang yang dalam sekejap, hidupnya langsung hancur.

Kukira, teknologi adalah salah satu bentuk kekuatan. Di tangan orang yang tepat, ia bisa membuat kebaikan yang besar, tapi jika tidak, ia juga bisa membuat kehancuran yang masif. Maka dari itu, penting bagi orang-orang Islam untuk menguasai bidang ini. Jika kita tidak menguasainya, maka dengan izin Allah, seluruh kehidupan kita akan berada di tangan orang-orang yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Qadarullah, hari ini kita sangat jauh tertinggal. Kita hanya menjadi konsumen smartphone, konsumen media sosial, dan konsumen industri teknologi. Proses manufaktur? Tidak paham. Proses perancangan? Tidak paham. Proses pembuatan perangkat lunak? Tidak paham juga. Kita hari ini tidak jauh berbeda dengan 150 tahun yang lalu, saat Eropa berhasil mengembangkan ilmu kimia dan mekanika untuk merancang senapan mesin, artileri berat, dan kendaraan lapis baja, sementara kita hanya bisa membeli persenjataan dari mereka.

Kalau kita hanya bisa jadi konsumen, sampai kapanpun juga sepertinya tidak akan datang kejayaan Islam.

Aku, yang besar di masjid radikal!

Tuesday, 14 November 2017


Oktober, 1997. Tangisan kecilku terdengar mereda dari dalam pelukan ibuku. Saat itu, beliau adalah mahasiswi tingkat dua di ITB, jurusan teknik sipil. Tentunya, mengurus seorang bayi sekaligus menimban ilmu dari institut yang katanya terbaik dan terkeras tidaklah mudah. Tapi ternyata, Allah memberi jalan. Ketika penjelasan dosen meminta perhatian, aku dititipkan oleh ibuku pada teman-temannya. Aku dititipkan di tempat yang sejuk, adem, luas, baby-friendly dan... radikal. Katanya sih.

Masjid Salman ITB.

Sekarang tahun 2001. Aku berusia empat tahun. Tempat wisata favoritku waktu itu hanya satu: Bonbin! Dan setelah bonbin, tempat ngadem, tempat makan yang paling enak ya kantin... radikal.

Masjid Salman ITB.

Tahun 2012, aku memasuki usia SMA. Sudah waktunya aku mencari jati diri, mengeksplorasi minat dan bakatku. Lalu, aku dikenalkan pada sebuah organisasi pengembangan minat remaja. Kreatif, itu namanya. Disana, aku belajar sains, fotografi, bahkan menulis. Disana juga tumbuh bibit-bibit ketertarikanku pada dunia organisasi dan dunia aktivisme. Aku berteman dengan orang-orang baik, dan belajar untuk menjadi orang yang bermanfaat. Semua ini terjadi di lapangan rumput masjid... radikal.

Masjid Salman ITB, lagi.

Tahun 2015, aku dan beberapa teman menggagas sebuah tempat bimbel murah. Mengajarnya voluntir. Kami membantu anak-anak SMA untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian seleksi perguruan tinggi negeri. Tapi, kami mahasiswa yang miskin ini tidak punya uang untuk sewa tempat! Jadilah segala planning, kegiatan belajar-mengajar, bahkan try-out dilakukan di lantai sejuk koridor timur masjid... radikal.

Dimana lagi kalau bukan di Masjid Salman ITB?

Maret, 2017. Aku berada jauh sekali dari Salman ITB. Dibawah teriknya matahari Doha, aku sedang sibuk memikirkan topik final paper-ku di kelas menulis akademik mahasiswa tingkat satu. Seperti kebanyakan profesor di Carnegie Mellon, profesor kelas ini ramah dan hangat, tapi cara menilainya killer. Akademisi Uruguay satu ini, standarnya tinggi minta ampun. Tema kelasnya pun sulit, soal bagimana lanskap urban bisa mempengaruhi isu-isu masyarakat seperti segregation, discrimination, sampai cultural identity. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis soal ruang publik. Fokusnya, religious public spaces. Case study-nya? Tentunya, sebuah tempat yang all-welcoming, hangat, penuh dengan kasih sayang dan semangat persatuan, dan... radikalisme?

Masjid Salman ITB, euy!

Satu bulan dan 17 halaman kemudian, aku membaca hasil penilaian profesorku. Disana tertulis: Very nice paper! Mark: A. Alhamdulillah.

Sekarang aku di tahun ke-20 bersama Masjid Salman ITB. Aku, yang besar di masjid ini, masih belum bisa menemukan jejak secuil nilai radikalisme yang dimaksud. Atau mungkin aku yang salah paham, jangan-jangan radikalisme yang dimaksud konotasinya positif. Mungkin yang empunya mulut hanya ingin bilang bahwa nilai-nilai yang baik dan mengakar telah menyebar ke lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Tanah Air. Terutama di ITB lewat Masjid Salman.

Atau, beliau tidak serius. Pak Kiyai kan memang senang bergurau?
Bandung, 25 Mei 2017.

Akhyar Kamili

Gambar: Fatharani Yasmin Shaffiyya Sani, 2015. "Kebahagiaan kecil."
#TehSalmanManis

Tunda.

Sunday, 15 October 2017

Akhi, tidak bisakah kita menunda perseteruan kekanak-kanakan ini? Mungkin akan lebih pantas memperdebatkann hal2 ini ketika Muslim di Turki sudah bebas menjalankan agamanya, di Indonesia dilindungi dari penindasan sistematik kapitalisme, di Mesir dibebaskan dari penyiksaan2 yang tidak mengizinkan mereka untuk bahkan shalat, di Amerika dilindungi dari godaan para liberal dan penistaan para konservatif, di Prancis dibolehkan memakai hijab dan menjadi muslim di ruang publik?

Kalau kita mengimani Allah dan Rasul yang sama, shalat lima waktu bersama, zakat dengan aturan yang sama, shaum ramadhan juga bersama-sama, haji pun ketempat yang sama, melihat kondisi masyarakat yang yang sama, memiliki azzam untuk merubahnya yang sama, kenapa harus saling mencela dengan klaim-klaim yang basisnya tidak jelas? Bukankah kita bangga mengikuti prinsip yang diajarkan Rasulullah SAW soal tabayyun?

Yah, mungkin kita belum berkenalan dengan cukup baik. Dan mungkin kami belum menunjukkan wajah yang baik dihadapan kalian, saudara seiman. Semoga Allah memaafkan kesalahan kami tentang kalian dan kalian tentang kami. Semoga Allah melindungi hati kita yang rapuh ini dari hasad dan kesombongan, dan mengizinkan rekonsiliasi suatu saat nanti.

الله يهديك

- yang sama-sama ingin memperbaiki dunia Islam agar kembali ke ajaran Allah dan rasul-Nya

Beban

Friday, 13 October 2017

Kemarin, Muslim Student Association (MSA) di CMUQ menggelar diskusi yang.. dalem.

Kami berbicara soal dakwah. Soal hakikatnya, sifatnya, dan tantangan-tantangannya. Diantara berbagai pemikiran menarik yang muncul ke permukaan, satu pengingat terasa sangat menohok.

Di kampus yang sekuler ini... Kami yang lemah, rapuh, dan sebenarnya bukan apa-apa dianggap sebagai representasi dari Islam. Mereka yang shalat, mereka yang pake jilbab. Sejujurnya, ini adalah sebuah nikmat yang luar biasa. Ditengah hiruk-pikuk kehidupan kampus yang melalaikan, Allah masih sayang terhadap kami. Allah memberi kami ketenangan, memberi kami pemahaman bahwa ada hal-hal yang lebih penting daripada karir. Bahwa nilai bukan hanya "bukan segalanya", tapi "bukan apa-apa" di hadapan Allah yang Mahabesar. Kami bersyukur kami diberi kesempatan untuk menjadi agen dakwah, penerus para nabi.

Tapi ini juga sebuah ujian.

Kita yang diberikan kehormatan sebagai representasi Islam menanggung beban yang berat. Ketika kita melakukan kebaikan, maka pandangan orang mengenai Islam akan membaik. Tapi apa yang terjadi ketika kita, sebaliknya, bermaksiat atau melakukan sesuatu yang makruh? Mereka tidak akan bertanya dua kali kenapa kami melakukan maksiat. Manusia yang naif akan segara mengambil asumsi,

"Oh ternyata gak apa-apa ya. Toh, doi juga ngelakuin."

 Pertanggungjawaban dunia dan akhirat macam apa yang kami hadapi?

 Aku tidak tahu. Tapi kurasa, kami terikat pada standar moral yang lebih tinggi. Semoga Allah yang Mahaadil menjaga kami.

Doha, 13 Oktober 2017

Akhyar Kamili

Kuliah di Qatar? Nih! [Bagian Kedua]

Wednesday, 6 September 2017

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Summer 2017 is.. over. Well, almost. How fast things have flown by! I was only five weeks in as Front Desk Assistant when I wrote the first part, and now I'm a Community Development Advisor. Now, one interesting part of this current job is that I get to welcome and guide new students who come to pursue their degree in Education City. I found that unlike me, most of these new students had someone who introduced them to EC, and made them go here. Normally there would be a brother, a sister, a high school alumni, a neighbor, all sorts of strange people that made them go here. And that's great! You want to know what's not so great? Me! This kicks me hard because.. well, surprise, I barely attempted to get people here. Maybe it's not time that flew fast, it's just that I wasn't paying enough attention.

Begitulah motivasi gue untuk menuliskan bagian kedua dari seri "Kuliah di Qatar? Nih!" yang gue mulai (dan tinggalkan) 7 bulan yang lalu. Dalam bagian pertama, gue mendeskripsikan kampus-kampus yang ada di Education City, dan pengalaman macam apa yang ditawarkan oleh Qatar sebagai tempat menuntut ilmu. Nah, bagian kedua ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana lo bisa daftar di program-program undergraduate (S1) dan menjadi bagian dari Education City. Selamat menyimak!

Seperti yang sudah gue ulas di bagian pertama, Education City memiliki 1 kampus natif Qatar, Hamad Bin Khalifa University, dan 8 kampus cabang universitas asing, yaitu:
  1. Carnegie Mellon University (S1)
  2. Texas A&M (S1, S2 Chemical Engineering)
  3. Virginia Commonwealth University (S1)
  4. Weill-Cornell Medical College (Kedokteran)
  5. Georgetown University, School of Foreign Services (S1)
  6. Northwestern University (S1)
  7. HEC Paris (S2)
  8. University College London (S2,  S3)
 Soal program apa saja yang tersedia di masing-masing universitas, silakan cek di bagian pertama, atau di website masing-masing universitas.

As you might have noticed, every university in EC which offers an undergraduate degree (S1) is based on the US. This means that all the requirements are in alignment with US standards. Which means I could save a lot of time typing this and just refer you here: https://www.studyusa.com/en/a/34/applying-for-admission-to-a-u-s-program

General Requirements

But well, I don't mind explaining it a little bit. In general, the following are required:

1. SAT/ACT

SAT and ACT are generally used in the US as a pre-university test. It analyzes your academic skill set: Reading, writing, and basic math. To be honest, when I attempted the test, I was surprised by how difficult SAT was. Maybe because it's designed for native English speakers, many of the vocabularies and skills tested are very foreign unless you have been using English to read and write from an early age. I heard ACT wasn't as harsh, and SAT got reformed in 2016, so maybe it's not as bad now.

Bear in mind that US universities place A LOT of importance on these tests. They generally don't care how good you are at your physics or advanced math, because they will re-teach you anyway.  It is critical that you show your ability to communicate and understand academic materials, which means, to read and to write.

Usually, universities require you to take either ACT or SAT and request the examination bodies to send them your test score. Both SAT and ACT are held all over the world, a few times a year. In Indonesia, it's available in 5 or 6 large cities. It should cost $100 - $150 for each test. You can find more details in their website.

2. TOEFL

This one is much more familiar, also much easier than SAT in my time. Not all US universities require this, but I know that for one, CMU does. You have to take the iBT/PBT tests (NOT ITP). In total, it should cost you around $200 from start to finish.

The minimum requirement for top-tier universities is 577 in PBT (90 in iBT). If you want stronger chances, you should aim for 600 at least (100 in iBT).


3. SAT/ACT Subjects/ A-Level
You will need an internationally recognized tests in high school subjects. Unless you are studying in a British curriculum, I recommend you take SAT/ACT subjects. They are not terrifyingly hard. In science tests, once you have a good comprehension of a concept, you should find this easier than SBMPTN or UM. Mind yourself that they are all in English though. If you're not in an English curriculum, you should get yourself used to the vocabularies. You'll have to understand it in university, anyway.

The Application 
 
Now, even if you have all the essentials covered, it'll be meaningless if you don't actually apply to a university. You HAVE to apply to every university you want to go to. Each university, in general, has a different application portal. You DON'T have to go to US just to apply to a US university. Every university should provide you with an application website that covers the whole application, A-Z.

According to this source-which-I-have-never-seen-before and my experience, most US universities set their deadline for January. Some of them, however, closes as early as late November. Make sure you know your deadlines. Note them down, don't miss them!

In the application, they will  ask you about yourself, your motivation, your experience, your visions, all sorts of things about you. If you have been browsing the internet about admission essays, you'll probably hear the following a lot: Don't plagiarize. Don't lie. Be yourself. Prepare early. Have someone advise you on your essays. It's not cheesy, it's the reality. Don't make yourself look stupid and follow these principles.

All relevant information should be available on the university website. If you're clueless, use Google. If you're not sure about something, ask questions. Once, I sent an email to at least 4 different admission offices asking about their admission procedures at the same time. They will help you.
I hope you'll receive one of these, too.

The period of not knowing the process to apply, not knowing what to do, and not knowing what you don't know is stressful. But, it will help you grow. Finding the right information is a necessary skill you will always value. Well, at least you find this post. I am open to helping you. Just reach out to akhyar.kamili97[at]gmail[dot]com and ask me questions. Take care!

!الله يباركلي فيك

 

Hits

Stack Overflow

Blogroll

Blog Nanda
Days of Nan - http://nan2598.blogspot.com/

Writings of Niti
Niti No Kakikomi - http://samazamanakakikomi.blogspot